#Psikologi: Self Fulfilling Prophecy

Temen-temen pernah gak ? ketika baru aja keluar dari rumah mengalami hal yang tidak menyenangkan. Kemudian kita meyakini bahwa itu adalah awal yang buruk dan akan menjadi hari yang buruk sepanjang hari. Trus ngejudge hari itu akan jadi bad day buat kamu. Kemudian ternyata benar, kamu telat datang kekampus, lupa membawa notebook atau modul, bermasalah dengan dosen, urusan organisasi berantakan dan hal buruk lainnya. Biasanya diakhir hari cuma bisa menangis dan mengeluh kelelahan mental.

Hal ini bisa saja kita sedang mengalami sesuatu yang disebut a self-fulfilling prophecy.

Dengan kata lain, harapan tentang suatu subyek baik berupa prediksi positif maupun negatif, seperti terhadap seseorang atau peristiwa, dapat memengaruhi perilaku kita terhadap subyek itu, yang menyebabkan harapan tersebut dapat direalisasikan

'Apa yang Kamu pikirkan, rasakan, dan inginkan, itulah yang akan Kamu peroleh'.

Istilah ini berasal dari seorang sosiolog di pertengahan abad ke-20 bernama Robert K Merton. Pada 1948 beliau mendefinisikan istilah ini dengan menunjukkan bahwa perilaku manusia ditentukan persepsi dan makna yang kita berikan pada situasi. Pada dasarnya, saat melihat realitas di sekitar kita, kita harus memutuskan apa artinya bagi kita.
Apakah situasi tersebut baik atau buruk?
Bagaimana perasaan kita tentang hal itu?
Bagaimana kita menanggapinya?

Ketika kita meyakinkan diri kita bahwa suatu situasi memiliki arti tertentu, perilaku kita cenderung mendukung makna tersebut, menciptakan suatu self-fulfilling prophecy.

Tidak hanya untuk individu saja, self fulfilling prophecy ini juga dapat diterapkan pada sebuah kelompok. Dalam sebuah penelitian berdasarkan teori pygmalion effect atau rosenthal effect  terhadap tiga kelompok yang sebetulnya memiliki kualitas yang sama. Ternyata dari hasil penelitian tersebut, diketahui dengan self fulfilling prophecy, ketika kita dapat memberikan optimisme kepada orang lain, kinerjanya akan melebihi kapasitas biasanya. Kemudian polanya bisa positif atau negatif.
Terbukti sih dikelompok tugas aku biasanya, misal satu kelompok dengan orang yang aku anggap nyaman dan menyenangkan, aku akan ngerjakan tugas itu dengan sepenuh hati dan hasilnya pasti lebih bagus :')

Campbell (2015) pernah kasih tau begini, "sugesti awal itu mungkin telah membentuk kenyataan pada Anda. Suatu sugesti yang disengaja dapat memengaruhi seberapa baik orang mengingat sesuatu, misalnya bagaimana mereka menanggapi pemeriksaan medis dan seberapa baik kinerja ataupun perilaku mereka"
Alasannya, hal itu disebabkan sesuatu yang disebut harapan respons. Ini berarti bahwa cara kita mengantisipasi respons terhadap situasi memengaruhi bagaimana kita benar-benar akan meresponsnya.

Dengan kata lain, begitu Kamu mengharapkan sesuatu terjadi. Perilaku, pikiran, dan reaksi Kamu sebenarnya akan berkontribusi terhadap terjadinya harapan tersebut.

Inti dari semua tulisan diatas adalah pentingnya buat kita terus berfikir positif dalam memualai hari dan menanggapi hal-hal yang tidak kita sukai :)

Ini penting banget buat orang kaya aku.. Bener-bener harus ditanamkan dipikiranku terus-menerus karena aku orang yang negatif thinking kadang :( masih suka pesimis dan gampang stress hehe

Jangan menyerah diawal kamu gak sepengecut itu !


Self Reminder :)

Komentar